Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

17 May 2012

Merdeka

Penuh makna saya ucap sebuah kata
Indah dan nyata dalam angan
Layaknya pahala dan surga dalam agama

Tidak mudah memahami
Tidak sulit untuk berani
Jika memang ditekuni, tidak akan sekedar angan

Bebas dan luhur, begitu indah
Memang begitu adanya, mempesona
Saya terkesan,
Komitmen hati dan aksi nyata perlu

Merdeka, atau apapun namamu...
Mari bertemu dan hindari malu
Jangan mengendap dalam angan,
Saya tidak butuh ciuman, pelukan darimu
yang kudamba, hadirmu denganku

Tagih janji ini, jika suatu hari kuingkari
Aneh mendekati, 
tapi angan adalah awal...
Langkah sudah kutempuh, 
mari temani diri ini

Merdeka ! :)

13 April 2012

Perintah Warna

Baru tadi kulewati perempatan utara Jogja
perlahan menunda laju, kuning muncul
terhenti dan menepi, menghormati merah menyala
setelah hijau menyapa, roda kembali menggesek bumi

Bukan tak ada makna warna disana
simbol hidup !
semua harus tetap berjalan
sedikit menghormati, ada kalanya melaju pelan
hingga datang merah, dan segalanya terhenti.

30 January 2012

Jarak dan Waktu

Mereka tidak mengerti  luka dibalik bahagia
Seperti bis kota dan transjakarta di ibukota
Saling memusuhi untuk mencari,
Namun masing-masing memenuhi

Saya seperti pejalan kaki, yang lelah untuk melangkah
aku harus berlari, namun tak ingin menyia-nyiakan hari
menyadari, waktu tak mungkin terus menanti

10 December 2011

Ah...


Hari ini panas menyelimuti
Angin membawa gerah, menyelimuti bumi
Tak guna gerhana malam ini
 ia tak bisa membasuh peluh

Ada canda tawa di seberang sana, nampak bahagia
Peluh menghadirkan senyum di bibir
Tak terasa adanya lelah
walau terasa adanya gundah

20 November 2011

Dua benda*


Sebatang rokok mulai kubakar
Asap memenuhi ruang, pekat
Secangkir kopi hitam ikut menemani
Melengkapi abu, menutupi cahaya lampu

Dua benda, ciptaan manusia
Setia menemani bagai mendung dan hujan
Antara cerah dan mentari
Tanpa luka, tak ada suka

29 October 2011

Jam Sepuluh


Tak perlu rima irama
untuk menyatakan cinta
semua tidak nyata
yang ada hanya duka

Bersuka dengan fana
tak kuasa nyata terluka
berbisik mesra desir angin
mengucap "kau miskin ! "

18 October 2011

Saksi

Dua anak manusia bertemu dan bercengkrama dalam suka
disaksikan oleh mentari, menghindari sepi
Hari itu muncul sebuah rasa
Entah apa namanya...

Waktu dapat berkata, ini saatnya
Malam merestui, mentari malu mengakui
Tak peduli waktu, mereka bersatu
mengucap kata manis berdua

Dan Tuhan tahu...
Sebenarnya, tak ada kata satu
waktu mengerti semua
ia berkata "itu fana !"

Oktober menjadi saksi
bukan hanya kali ini
mereka tidak mengerti
mereka pergi, sampai nanti.



20 August 2011

Abadi (?)

Aku ini abadi,
setidaknya lewat tulisan ini.
tulisan yang kau baca
tak berguna ! lebih baik palingkan muka
Bukankah lebih baik bekerja ?
kesenangan duniawi lebih berarti..


tapi aku nyaman seperti ini
mencoba untuk abadi
kau kira aku waras ?
aku tidak pernah puas !
ingin menjadi kaya
namun ku hanya bisa berkata-kata


Hei, jangan coba mengganggu !
berbaik hati kuminta kau pergi
bukankah lebih baik begitu ?

jangan coba untuk berpaling
memang, apa lagi yang tersisa disini..
apa kau ingin melihatku mati ?


Ah, tidak pernah puas
selalu engkau meminta
bukankah kau telah bekerja ?
sini..kuminta kau bangun
lihatlah dunia,
bisakah engkau memilikinya ?


(Lama-lama menjadi tua
kemudian mereka sirna,
dikhianati dunia...
tidak ada apapun tersisa.
mereka akhirnya benar-benar mati
tidak akan pernah abadi)

01 August 2011

Gelas.

Gelas pertama datang..
sejenak diam, aku minum kau melamun
sudahi kesunyian ini, mari kita mulai bicara
tak ada cerita, tidak berguna
keramaian dunia perlahan sirna
kembali sunyi, dan kau pun mulai mengerti
memang tak mudah untuk berani..

Perlahan isi gelas mulai berkurang,
kita memang bicara, basa-basi..
dalam benak, apa kau ingin aku pulang ?
aku berkata dalam hati, aku ingin disini !
menikmati isi gelas
memandangi televisi
menikmati sosokmu yang ada disisi

15 May 2011

Akan tiba...

Akan tiba waktunya
dimana semua akan menjadi biasa,
tak ada lagi air mata dan canda tawa...
kekosongan melanda.


Akan tiba waktunya
senyum kembali hadir di bibir,
tak ada lagi getir...
kebahagiaan akan tiba.


Akan tiba waktunya
rasa duka kembali melanda,
membawa mendung kedalam relung hati...
kembali sakit menghampiri.




Akankah tiba waktunya ?
jika kekosongan terlalu lama hinggap,
yang tersisa hanyalah gelap...

26 April 2011

Dibawah terang bulan

Dibawah terang bulan purnama,

bersinar layaknya kunang - kunang
di tengah padang ilalang,
kulihat engkau sekilas menawan..
sang bulan bersih dari gangguan awan.


Sejenak kurasakan kehadiranmu disini
lalu engkau menepi
kurasa tak ada lagi engkau disisi
Pergi ?


Sinar bulan pun perlahan tertutup
awan hanya menggangu, ku tak suka denganmu
kedatanganmu, membawa tangis langit selalu
Pergi jauh dari sini ! aku ingin melihat purnama itu.